Pemain-pemain anyar Persikabo yang rencananya akan menjadi tulang punggung yang menggantikan pemain pilar seperti Sony Kurniawan, Bachtiar, Eduard Valutsa, Okoye Emeka Obidiah, Maulana dan Hari Salisbury, terancam tidak bisa main untuk memperkuat Persikabo saat menghadapi Persih, Tembilahan dan Persires, Rengat. Hal ini karena proses pendaftaran pemain yang syaratnya lebih ketat dibandingkan sebelumnya. Adanya aksi demonstrasi yang digelar oleh supporter dari klub-klub Indonesia, juga menghambat proses pendaftaran.
Padahal, pemain-pemain tersebut sangat diandalkan untuk bisa bermain untuk memperkuat Laskar Pajajaran di awal putaran kedua ini. Kepala Pelatih, Maman Suryaman mengatakan, baginya tidak masalah jika Eduard dan Emeka ternyata tidak bisa turun. Karena Eduard memiliki banyak cadangan seperti Bachtiar dan Maulana.
“Kalau Eduard dan Emeka tidak bisa main, kita sudah pertimbangkan mengganti posisi mereka dengan Maulana atau Bachtiar. Di depan, juga sebenarnya banyak pejuang kita. Yang disoroti dan diperbaiki di putaran kali ini kan pemain belakang. Kalau ternyata Bachtiar dan Maulana tidak bisa turun, baru saya kelabakan. Karena mereka adalah salah satu andalan juga. Pemain belakang kita sangat minim. Tapi sebagai coach tentu saya harus siap dengan berbagai strategi cadangan,” ungkap Maman melalui telepon kepada Pakar, tadi malam.
Mantan pelatih Sriwijaya FC itu menambahkan, sebenarnya ia sangat membutuhkan dua pertandingan kali ini untuk menguji semua pemain baru. Karena pada laga home nanti, poin penuh adalah target mutlak yang tidak bisa ditawar. Sehingga mereka harus bisa menunjukkan aksi di pertandingan sesungguhnya, dan ini adalah kesempatan satu-satunya.
“Ini adalah ajang uji coba bagi mereka dan penilaian untuk saya, sebagai dasar menentukan strategi di home nanti. Eduard dan pemain lokal yang baru, sudah bisa menyesuaikan diri dan tampak sudah solid. Tapi kalau Emeka kan belum. Masih butuh waktu. Saya berharap semua pemain bisa merumput bersama nanti. Jadi hasil maksimal di home nanti bisa diambil,” harapnya.
Kamis, 24 Februari 2011
“Untung Tukang Cukur”
MANAJER Persikabo, Mas’an Djajuli tersulut emosinya ketika mendengar surat pemecatan Nanmi Hughes dan Boumsong ternyata belum sampai ke PSSI. Ia mengaku sudah menandatangani surat itu dua minggu yang lalu. Kemudian surat tersebut diberikan kepada salah satu manajemen lainnya dengan tujuan akhir PSSI. Namun ternyata surat itu malah jatuh ke tangan agen yang mensponsori Boumsong dan Nanmi.
“Agen pasti merobek surat itulah. Tidak akan disampaikan kepada PSSI. Karena dia ingin pemain bawaannya tetap bermain di Persikabo dan tidak dipecat. Saya kaget, saat agen Eduard dan Emeka mendaftarkan pemain ke PSSI, mereka terganjal Nanmi dan Boumsong. PSSI mengaku belum mendapatkan suratnya. Sementara pemain baru belum bisa didaftarkan, sebelum yang lama resmi dicoret. Ini cukup bikin pusing juga, karena waktu udah mepet sekali. Pusing saya,” curhatnya ketika dihubungi Pakar via ponsel, kemarin.
Lelaki yang mempunyai julukan Raja Midas itu mengaku akhirnya menyelesaikan semua masalah administrasi tersebut sendiri. Ia juga mengaku kerepotan dengan terhentinya aktivitas PSSI karena banyak aksi demonstrasi. Sehingga tidak memungkinkan baginya berinteraksi langsung dengan kantor pusat tersebut.
“Ramai sekali tadi di PSSI, jadi tidak bisa mengurus langsung. Saya langsung menghubungi orang PSSI ke sana sini dan akhirnya mereka bisa menerima surat tersebut melalui faksimili. Bagaimana saya tidak jadi manajer tukang cukur kalau begini caranya? Kalau sudah mepet kan harus turun tangan langsung. Untung saya manajer tukang cukur jadi Alhamdulillah semua bisa diatasi,”tandasnya.
“Agen pasti merobek surat itulah. Tidak akan disampaikan kepada PSSI. Karena dia ingin pemain bawaannya tetap bermain di Persikabo dan tidak dipecat. Saya kaget, saat agen Eduard dan Emeka mendaftarkan pemain ke PSSI, mereka terganjal Nanmi dan Boumsong. PSSI mengaku belum mendapatkan suratnya. Sementara pemain baru belum bisa didaftarkan, sebelum yang lama resmi dicoret. Ini cukup bikin pusing juga, karena waktu udah mepet sekali. Pusing saya,” curhatnya ketika dihubungi Pakar via ponsel, kemarin.
Lelaki yang mempunyai julukan Raja Midas itu mengaku akhirnya menyelesaikan semua masalah administrasi tersebut sendiri. Ia juga mengaku kerepotan dengan terhentinya aktivitas PSSI karena banyak aksi demonstrasi. Sehingga tidak memungkinkan baginya berinteraksi langsung dengan kantor pusat tersebut.
“Ramai sekali tadi di PSSI, jadi tidak bisa mengurus langsung. Saya langsung menghubungi orang PSSI ke sana sini dan akhirnya mereka bisa menerima surat tersebut melalui faksimili. Bagaimana saya tidak jadi manajer tukang cukur kalau begini caranya? Kalau sudah mepet kan harus turun tangan langsung. Untung saya manajer tukang cukur jadi Alhamdulillah semua bisa diatasi,”tandasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)